
Mungkin terlalu banyak elemen dalam film ini yang demikian penting yang
tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, yang jelas, unsur kemanusiaan
mendapat tempat yang adil.
Nuansa komik dimana sang jagoan tidak pernah kalah, tidak ada di film
ini. Semua karakter memiliki kekalahan mereka masing-masing. Bagi yang
belum, tinggal tunggu waktunya.
Hal favorit saya adalah saat Joker ingin membuktikan bahwa manusia pada
dasarnya itu jahat, beri mereka situasi yang buruk dan tekanan yang
berat, maka mereka akan saling memakan (Homo Homini Lupus).
Konsekuensi moral dalam memberantas kejahatan juga disorot dalam
karakter Bruce wayne, bagaimana ia mempertahankan kode etiknya untuk
tidak membunuh, tetapi jika kotanya disodorkan seorang psikopat jenius
jelmaan iblis yang gemar membunuh, mengadu domba, bahkan merasuki tokoh
hukum nomor wahid di kota, akankah Batman bertahan? Tapi tunggu dulu,
kode etik seorang Lucius fox juga bertabrakan saat kepentingan publik
digunakan untuk kepentingan penyelidikan.
Dan saat bermain benar tidak lagi efektif dalam membersihkan kota,
apakah Batman, Gordon dan Harvey akan mencoreng kehormatan mereka agar
Gotham menjadi putih bersih?
Diatas semuanya itu, Joker berdiri dan tertawa, ia tidak pernah
menganut kode etik manapun. Ia merampok, membunuh, mengadu domba, dan
menyiksa, hanya karena ia mampu dan senang melakukannya. Sebuah pilihan
yang menurutnya logis, daripada hanya berteriak minta tolong.
Kita masih bisa tersenyum melihat lagak Jack Nicholson dalam "Batman",
tapi saya ragu anda bisa tersenyum tanpa merasa terganggu saat melihat
Joker versi Nolan ini. Anda bahkan tidak dapat mengenali siapa sosok
pemerannya. Alih-alih, anda akan dibuat jijik sekaligus kagum dengan
karakter tanpa asal-usul ini.
Sekadar tambahan, penulis skrip sengaja membuatnya seperti itu dengan
tujuan agar ia tampil "sudah dari sononya begitu", dengan demikian
menjadikannya seperti setan dalam wujud manusia.