Seminar Komik di Artspace 59

Tanggal 14 Desember kemarin, gua
ikutan seminar komik di artspace 59, oke juga, kritis dan ngebuka wawasan baru,
berita selengkapnya baca aja di sini dan di sini, berita secara subjektifnya, bacalah terus
kebawah.

Gua suka banget pas bagian
penjelasan tentang riset yang dilakuin Peter Van Dongen buat Rampokan Jawa
& Rampokan Celebes. Buku pertama abis 7 taun utk riset dan produksi. Buku
kedua dibantu oleh komputer dalam pengerjaan warna, jadi memangkas waktu
produksi lumayan banyak sehingga keseluruhan pembuatan hanya memakan tempo enam
tahun saja. Dan uniknya, cerita sudah ada di kepala dia, berikut karakter dan
konflik-konfliknya. Jadi tinggal survey sejarah dan lapangan.

Apakah itu cukup? Ternyata mau
segila apa pun survey, kesalahan itu bisa aja tetep ada, tapi minim banget.
Contoh disini misalnya becak yang digambar Peter di sulawesi itu becak Jawa,
bukan becak Sulawesi.

“Jadi gimana?“

“Gampang kok, setiap panel dia tip
ex satu-satu becaknya, lalu digambar ulang.”

Itu bener-bener harga yang harus
dibayar buat sebuah kesempurnaan. Edhyaaann. Musti belajar banyak nih.

Oh iya satu lagi yang berkesan
adalah penuturan dari John De Rantau, sutradara Senandung Denias. Dia survey
untuk filmnya dengan tinggal di Papua selama kurang lebih seminggu, belajar
adat, kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan, dll, termasuk "mas kawin"
standar berupa babi. Jadi kalau mau nikahin cewe di sana, kalo dia anak biasa,
mungkin sepuluh babi (asli, bukan kalengan) bisa ditukar dengannya. Kalau dia
anak kepala suku, mungkin sekitar seratus ekor babi baru bisa.

Eniwei, dari pengalamannya John,
kita dapet banyak sekali tentang bagaimana menyelami suatu karya, dan kadang
kelemahan kita yang terjebak dalam tampilan visual (look) sebuah karya, tanpa
menuangkan pengalaman diri ke dalam karya tersebut.

Yeah, gua juga suka gitu kok, cari
referensi gambar yang keren, terus diambil sebagai inspirasi, tapi cerita
seadanya. Jadinya ya cerita seadanya dengan tampilan lebih mending dikit.

Jika dibalik, cerita lebih kuat dan
survey seadanya, itu masih lebih berkesan, walaupun mungkin agak mengganggu.
Yang jelas, semuanya tergantung si pembuat, mau dibawa kemana karya ini,
serealistis mungkin, atau se-enggak nyambung mungkin, atau se-setengah hati
mungkin.

“Ya, kira-kira begitu yang saya
tangkap, ada pertanyaan anak-anaaak?”

Dscn1221idits

Oh iya, sedikit tambahan, Sapi
Pangalengan gua bisa bersanding dengan karakter-karakternya Thoriq, Tony
Masdiono, Tita, Dedefox dan cergamikomikus lainnya. Hueheheh merasa keren nih
weheheh hahahah hohoho hihihih ahahahaha hiuhiuhiu wehihehiuhahahudah ah tar
disangka kumat.

Leave a Reply