Jiarah di Jogja
Exomologisthe
to Kyrio oti agathos aliluia
Oti is ton eona to eleos
aftu aliluia
Itu adalah
sepenggal lirik dari sekian banyak lagu-lagu (cantoria) yang dilantunkan selama
ibadah doa Taize di aula universitas Sanata Dharma, Jogjakarta. Lagu tersebut
cukup unik, karena merupakan tambahan dari Gereja Ortodoks. Awalnya semua
lagu-lagu berasal dari Katolik.
Kami, grup doa
dari komunitas doa di asrama providentia, berangkat bersama pada hari kamis
malam, dengan kereta senja utama.
Selama perjalanan,
saya sempat terganggu oleh keluar-masuknya penjual makanan, saat kereta
berhenti, bisa untuk mengangkut penumpang, bisa juga untuk menunggu kereta lain
melewati jalur yang sama. Kami berangkat
pukul delapan malam, dan selama empat hingga lima jam berikut, selalu ada
penjual penganan masuk dan menjajakan.
Ketika waktu
menunjukkan pukul satu dini hari, dengan kondisi separuh bermimpi, saya
terbangun paksa oleh suara-suara penjual lanting.
Siapa juga yang
mau beli lanting pukul satu pagi? Lagi pula itu kan oleh-oleh khas Jogja? Untuk
siapa saya berikan oleh-oleh itu? Turis?
Mungkin kalau saya
pergi dari Jogja ke Bandung, lebih masuk akal untuk membelinya.
Tapi mungkin ini
hanya omelan kesal akibat mimpi yang terganggu, lalu saya menyalahkan penjual
itu dengan alasan logis, sementara mungkin saja dia tidak berpikir sejauh itu.
Mungkin saja ada orang yang memang mau membeli pada jam-jam itu.
USD – Universitas
Sanata Dharma, tempat kami berkumpul. Kira-kira separuh ITB, tapi lebih rimbun.
Registrasi ulang dilakukan di samping lapangan olahraga. Di sini peserta
dipersilakan untuk mengisi form, mendaftar ulang untuk nantinya dipilihkan
rumah untuk ditinggali. Kami juga ditawari
untuk menjadi relawan dari mulai paduan suara, dekorasi, perlengkapan, konsumsi
, hingga transportasi.
Tambahan lagi,
kami juga disodorkan form untuk ikut workshop pada hari Sabtu siang, yang
terdiri dari: kunjungan ke pesantren, kunjungan ke lokasi gempa di Bantul,
presentasi mengenai icon, presentasi
mengenai micro credit, pemutaran video dokumentasi kegiatan-kegiatan Taize, dan ibadah hening,
jika memang itu yang dicari oleh peserta.
Setelah makan
siang, kami menyempatkan diri untuk jalan-jalan, mencicipi Bakso Urat Pak
Narto, dan sepertinya Pak Bondan tidak salah, bakso ini memang maknyus.
Di seberang tempat
kami makan, ada poster Natal.
Asli engga ada
natal-natalnya sama sekali! Mungkin kalo mereka foto di kandang domba beneran,
bisa lebih kena.
***
Selesai makan
siang kedua kalinya, kami menyempatkan diri menaruh barang-barang di rumah
penduduk/ asrama yang kami tinggali. Saya tinggal naek bus dua kali ke lokasi,
oh ya, ada juga yang salah turun, hingga tersesat keliling Jogja, tapi itu lain
cerita.
Skolastikat SCJ,
bertempat di kaliurang km 7,5. Tempat para Frater selama mereka kuliah. Daerah
ini banyak sekali asrama serupa, persis di seberang ada asrama Anging Mammiri,
Skolastikat MSC, dan beberapa ratus meter dari sana, Kesusteran Santo Carolus
Borromeus.
Walaupun tempat
ini cukup sejuk, tetap saja kota ini terasa panas dibanding Bandung. Sangat
berlawanan dengan pendapat dua teman yang merasa kota ini adem. Mereka berasal dari
Jakarta.
Malamnya ibadah
pembuka dilaksanakan, lantunan puji-pujian memenuhi ruangan, udara sejuk dan
keheningan menggoda kami untuk berhenti sejenak dan bermimpi. Di sinilah saya
dan beberapa teman menyadari pentingnya kondisi yang fit.
Ini adalah para
bruder dari desa Taize di Perancis. Merekalah yang memimpin ibadah doa setiap
sore dan malam. Dengan karakter yang kalem dan ramah, selalu ada waktu bagi
pengunjung untuk berdialog setelah acara doa selesai.
Hari Sabtu, Saya
mendapat perspektif baru saat diskusi antar kelompok dalam membahas tema
kegiatan ini (memilih untuk mencintai, memilih untuk berpengharapan). Seorang
peserta mengatakan bahwa walaupun ia (secara doktrin dan iman Protestan) tidak
melakukan doa novena, ia menghargai dan menghormati sang ibu yang menjalankan
ritual itu pada istrinya yang akan melahirkan, sebagai bentuk kepedulian dan
kasih.
Workshop yang saya ikuti adalah bagian dari menjalin tali silaturahmi antar umat, dalam bentuk kunjungan ke Pondok Pesantren Nurul Ummahat, Kotagede pimpinan Kyai H Abdul Muhaimin. Di tempat ini beliau bercerita mengenai forum komunikasi antar umat yang dia bentuk (FPUB, Forum Persaudaraan Umat Beriman), berikut dengan berbagai kegiatan-kegiatannya dan kenyataan adanya pihak-pihak yang menentang atau malah memanfaatkan kegiatan tersebut untuk agenda pribadi.
Pengalaman ini sangat membuka wawasan saya, terutama dengan sikap Pak Muhaimin yang sangat moderat, namun tidak terjebak untuk mengkompromikan pemahaman agamanya. Satu lagi yang saya dapat, adalah ketika ia membicarakan forum antar umat itu, dimana banyak sekali sekat doktrinal, tata cara dan sosok yang disembah, ia menemukan kesamaan bahwa semuanya merujuk pada pengalaman iman personal. Dari sinilah seseorang dapat membagikan pengalaman imannya dengan siapa saja yang memiliki keyakinan berbeda, dan bahkan tidak mustahil untuk mendapatkan pencerahan melalui bentuk komunikasi tersebut.
Pemuda ini bernama
Reiner, salah seorang dari sekian banyak relawan yang terjun membantu kegiatan
ini (Saya jadi ingat ada satu relawan heboh dari Bandung yang menginap di
Bantul dan stress karena foto-foto di kamera digitalnya TERFORMAT secara tidak
sengaja, tapi, itu lain cerita).
Sebulan sebelum
hari H, pemuda berusia 20an tahun ini sudah meninggalkan negara kelahirannya,
Estonia, untuk ikut membantu persiapan acara.
Seusai kunjungan dari pesantren, saya sempat
bertanya apakah di tempat asalnya juga muncul gejala-gejala radikalisme agama,
dan ia menjawab tidak, karena di sana sangat sedikit orang yang beriman pada
kepercayaannya, akibat politik Uni Soviet, yang hingga kini pun setelah negara
itu pecah, pengaruhnya masih terasa.
***
Minggu pagi, saya
dan teman-teman selalu telat untuk ikut misa pagi di sana, mungkin karena kami
terlalu lelah, mungkin juga malas.
Areal tempat ini
luas dan sejuk (untuk Jogja), penuh pepohonan dan hewan seperti angsa, merpati,
burung dara serta anjing peliharaan.
Beberapa waktu
lalu seekor Dalmatian (bukan yang ada di foto) yang nakal suka mengejar dan
menggigiti angsa-angsa di sini. Sekitar dua puluh empat ekor mati.
Frater Albert
menjelaskan “…karena kenakalannya tidak bisa ditolerir, maka dia kami eksekusi”
“Hah? Emang mau
dimakan?” tanyaku.
“Iya”
Hmmh…
mudah-mudahan anjing lain tidak senakal si mendiang Dalmatian…
***
Sabtu malam adalah
ibadah terakhir, untuk kegiatan ini. Para Bruder akan kembali ke Perancis di
hari berikut.
Ini adalah cindera
mata yang diberikan oleh para bruder dan panitia, sebuah icon* bergambar Yesus dan seorang pengikutNya. Lukisan
ini diambil dari injil Lukas pasal 24, tentang perjalanan dua orang menuju
Emaus, dimana mereka tanpa sadar dibimbing oleh Yesus selama perjalanan, hal
ini melambangkan perjalanan iman kita selalu yang disertaiNya walau seringkali tidak disadari.
*Pengertian umum icon adalah
semacam simbol, namun pada kultur gereja ortodoks, icon adalah lukisan yang menggambarkan sosok kudus, seperti Yesus
Kristus, Bunda Maria, para santo, para malaikat, dan bahkan salib.
***
Saat workshop ke
Bantul, rombongan dibagi menjadi dua kloter: Ganjuran dan Pudong. Pagi ini kami
kebaktian di GKMI (M-nya untuk Muria, dari Gunung Muria, namanya mirip tempat
Gandalf melawan Bal… ah sudahlah, gak penting).
Sejauh yang kami
lihat, setelah mendengarkan cerita dari beberapa korban gempa, rehabilitasi
tempat tinggal masih berjalan terus, dan trauma akibat bencana sudah berkurang,
walaupun belum hilang. Seorang relawan ziarah Taize tidak ikut ke tempat ini
karena kesedihannya belum hilang ditinggal saudaranya yang terkena gempa.
Saya sempat
bertanya kepada seorang relawan di sana,

apakah mereka
pernah mengadakan penyuluhan tentang micro kredit atau semacam kredit usaha
kecil untuk penduduk sekitar. Dia menerangkan tentang misi mereka sekarang
adalah menyelesaikan sarana tinggal menjadi layak, semi permanen dan permanen.
Setelah tujuan itu tercapai, baru kegiatannya diarahkan ke bimbingan ekonomi.
Para relawan yang
berasal dari MDS tiba pada hari kedua setelah gempa dan beberapa dari mereka
masih ada hingga hari ini, sementara sebagian besar sudah pergi, mungkin pulang
atau menjadi relawan di tempat lain.
Sepulang dari
Bantul, kami saling bertukar alamat email dan setelah itu tinggal mengepak
baju-baju kotor kembali ke tas, makan siang terakhir bersama para Frater, Romo
dan Pastor .
***
Sebelum pulang, kami
menyempatkan diri belanja oleh-oleh.
Yah, inilah
tuntutan sanak saudara di kampung asal… Tidak banyak barang yang saya beli,
yang pasti ada bakpia pathok. Para penjual makanan berjejer di sepanjang jalan
Mataram. Karena saya tidak tahu bakpia nomor berapa yang paling enak, saya
memutuskan untuk membeli beberapa nomor.
Malamnya kami
bertemu di stasiun Tugu, untuk berangkat pulang pada pukul sepuluh malam. Seluruh kegiatan selama tiga hari terakhir
beres tuntas. Semua kelelahan bertumpuk di badan. Inilah akhir dari ziarah di
Jogja, namun awal bagi ziarah di dalam diri masing-masing.























December 12th, 2007 at 8:31 pm
meneer, meneer,
tolong diperhatikan..
itu jpeg “kira2 wajahnya seperti ini” :GANGGU!!!!!
hahahaha…. gubrag…
December 21st, 2007 at 10:39 am
dah lama juga loh aku enda ke jogja …, lihat pic2 kamu jadi. ingat lagi. ok deh. Sukses Terus yak..