Mawar dan Belerang

Liling

    Aroma orang yang barusan lewat menebarkan harum mawar dan sedikit bau belerang.
    Aku tahu harumnya itu palsu, hanya semprotan belaka, dan baunya itu nyata, berasal dari dirinya.
    Kenapa ya kadang kita memilih untuk menerima yang tempelan dan membuang yang asli?
    Kenapa juga semakin lama tempelan dan semprotan itu semakin canggih? Semua riasan, tampilan dan pernak-pernik semakin mampu mengubah seseorang seolah menjadi malaikat…
    Mungkin itu memang perlu, karena warna asli semakin pudar, bau asli semakin busuk, jadi bohong harus semakin besar untuk menutupinya.

3 Responses to “Mawar dan Belerang”

  1. 'aRuM SeTyo' Says:

    sedih amat rik, napa? abis diboongin sama temen ya? jadi inget lagunya nugie.. sabar yak?

  2. grace Says:

    well.. dunia skrg kan udah gak mau menerima yg asli2 lagi toh. maunya semuanya superficial. akhirannya.. karena semua udah superficial ya yg superficial itu dianggap asli. padahal busuk. trus lama2 kita smua jadi sperti makan bangkai aje. and we’ll all turn rotten anyways.

  3. Erick Says:

    “and we’re all turn rotten anyways”

    hmm, jadi kepikiran versi lain dari night of the living dead…

Leave a Reply