Tentang Kebebasan Menulis
Ini
percakapan via email yang gua tanya ke kenalan, soal kebebasan menulis. Cukup
menjawab kebingungan gua, dan cukup inspiratif juga, jadi saya posting di sini sekadar
untuk sharing.
Ini pertanyaan gua:
Brur,
aku mau tanya nih…
Sekitar tiga minggu yang lalu saat saya sedang sharing mengenai karya tulis
dengan teman-teman di tempat saya mengajar, ada seorang peserta baru (dia sudah
menelurkan sebuah novel Chiclit tahun ini, sepanjang 250an hlm, di usianya yang
ke-17, hrgh, sebel juga nih keduluan start…).
Dia
bertanya apakah boleh menulis suatu karya yang dalamnya berisi kegalauan,
keputusasaan dll, adakah tanggung jawab moral dalam menulis hal seperti itu?
Saya menjawab hal itu tidak dilarang, mengeluarkan apa yang menjadi pergumulan
dalam bentuk tulisan itu memang boleh, tetapi yang dia takutkan adalah dampak
orang ketika membaca, mungkin dalam hal ini pembacanya adalah anak sma dan smp,
mengingat kategori novelnya memang digemari anak muda.
Ia
takut pembacanya merasa keputusasaan itu dan malah terbawa melakukan hal-hal
buruk misalnya bunuh diri.Teman saya yang lain menambahkan dengan contoh novel
The Catcher in The Rye, yang dimiliki oleh beberapa pembunuh berantai di
Amerika serikat. Apakah mereka menjadi pembunuh setelah membaca novel itu atau
memang sudah psikopat saja, jadi buku itu tidak bersalah.
Saya
setuju dengan pernyataan yang kedua, tetapi tetap saja tergelitik dengan
tanggung jawab terhadap tulisan, dan reaksi pembaca yang mungkin tidak dapat
diprediksi, di sisi lain, saya juga tidak ingin terjebak dalam menulis yang
"bagus-bagus" melulu dan "mendidik", yang kadang terlalu
sarat muatan moral sehingga tidak terasa ekspresi dan emosi pada karya
tersebut, meminjam istilah dari guru saya waktu SMA , garam yang terlalu asin malah tidak dipakai sama sekali.
Loh,
ini kok malah jadi curhat, bukannya nanya?
Yang
jelas, saya sudah menjawab kepada peserta tersebut bahwa itu tidak dilarang,
nah dari sini saya mau minta pendapat dan saran, sebab saya masih merasa ada
satu dua masukan yang perlu untuk pertanyaan semacam itu.
Atau
ini juga menjadi semacam perang ideologi kecil-kecilan? Jadi Teenlit dan Chiclit yang bernuansa putus asa harus dilawan dengan Teenlit dan Chiclit dengan nuansa optimis?
Dan ini jawabannya.
Hi
Erick,
Menulis
adalah mencipta. Dan mencipta sesuatu mulai dari kebebasan.
Kebebasan inilah yang mendorong kreatifitas. Menurut saya, kebebasan
setiap penulis harus dihormati. Saya orang yang percaya pada kebebasan
berekspresi. Ini adalah sesuatu yang tergolong luxury untuk bangsa kita.
Meski demikian, saya percaya bahwa seorang penulis tidak sepenuh-penuhnya
bebas. Ia terikat oleh kategori budaya dan masyarakat dimana dia berada.
Maksud saya, kebanyakan seorang penulis memiliki self-cencorship. Tetapi
biarlah itu merupakan keputusannya sendiri. Bukan sesuatu yang dipaksakan
dari luar.
Saya
juga percaya, bahwa para pembaca bukanlah seperti celengan yang menerima saja
apa yang disodorkan tanpa daya kritis. Apa yang dibaca akan diolahnya secara
emosional dan intelektual. Sebuah karya cipta menjadi sesuatu yang terbuka
untuk diinterpretasi oleh pembaca. Ia bisa menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat tetapi ia juga bisa mendatangkan mudarat. Kebebasan pembaca untuk menerima informasi apapun haruslah juga dihormati. Dalam dunia seperti ini, sesuatu yang
tidak mereka dapatkan dari tulisan rekan anda akan mudah mereka dapatkan dari
ribuan penulis lainnya. Kebebasan itu memang memabukan tetapi ia juga
yang menempa kita menjadi manusia seperti saat ini.
Salam,
Albertus Patty

August 20th, 2007 at 3:20 am
Hehehe Pak Berty… temennya pak Desi
August 21st, 2007 at 8:17 pm
Oooh…Pak Berty!!!
Mari kita menulis dengan cinta eh tinta!
Heu?