Archive for September, 2006

Review: Dracula

Thursday, September 21st, 2006

Okeh, this is a one sided, highly subjective, review.

Coin

Hal pertama yang nempel di kepala gw setelah baca novelnya adalah: kenyataan bahwa Winona Ryder (Mina) sama sekali ga punya affair lintas kehidupan sama dracula, itu mah piur romantisme holiwud! Vivollo* Dracula adalah tokoh yg jenius dan jahat, Lex Luthor jaman dulu, versi eropa timur. Warlord iya, alchemist iya. Hampir sebanding sih sama Abraham Van Helsing, dokter iya, sarjana hukum iya…
Yuuu

Yang jelas, dari sini gw tau kalo secara tertulis ternyata bisa lebih serem, dan
gaya penceritaan yang berupa kumpulan catatan harian yang runut, seolah bikin
pembaca lagi bolak-balik diary punya orang lain. Jadi kejadian-kejadiannya kerasa lebih sebagai kesaksian. Sekarang aja udah serem, kebayang waktu pertama kali terbit, (1890an kalo ga salah), jadi yaa settingnya nyambung banget sama keseharian pembaca.
Terus lagi, being a vampire has a high resemblance with being a Leak (LE-YAK, bukan leak bocor), musti makan bayi dulu lah (untung gw dah brenti sblm smpat mulai), kalo siang jadi lemah lah dll. One thing for sure, they become unstoppable during the night.
Prinsip dasarnya standar: korbanin hidup di siang hari (dan afterlife tentu aja) maka ketika malam hari elu bisa idup melebihi manusia biasa. Mungkin ini yang disebut idup lebih idup ya?

Mmm untuk kasting pas filmnya, Van Helsing cocok banget diperanin sama Anthony Hopkins, tapi yang laennya kurang..
Okeh, Mina Harker mustinya lebih gemuk dan tinggi dikit, tapi lembutnya dah cocok sama Winona Ryder. Mungkin sama Katie Holmes juga cocok. Lucy Westenra, on the other hand, kurang cantik. Mungkin lebih cocok diperanin oleh.. duh lupa namanya, pokoknya yang maen jadi Lady Galadriel di The Lord of The Rings: The Fellowship of the Ring.
Terus untuk orang gilanya, si pemakan lalat(that’s one habit i’ve manage to stop), the zoophagus, hmm kayanya lebih cocok diperanini Kevin Spacey, dengan karakternya yang dari film se7en.

Untuk Jonathan Harker (Keanu Reeves) kayanya terlalu muda, mungkin lebih cocok diperanin sama Christian Bale (wah kalo beneran maen, keren ya, batman ngalahin dracula).

Untuk Arthur Holmwood, Quincey Morris dan Dr. Seward, kayanya karakter mereka kurang berkesan di film, maybe yg lebih cocok untuk meranin karakter-karakter diatas adalah (berturut-turut), Daniel day Lewis, Matthew McCocaughney, dan Ewan McGregor (ato Mac ya? gw lupa nih).

Untuk Dracula sendiri, humm, Gary oldman udah paling mirip sih dibanding yang sebelum-sebelumnya, tapi kurang tinggi.. mustinya setinggi Liam Neeson, baru cocok, warlord banget deh pokonya.

_______________________________________________________________________

*Kalo di film Bram Stoker’s Dracula, namanya jadi Vlad, probably based on a real character, Vlad Dracula, father of Vlad the Impaler (1430-1477) sometimes referred to as the historical version of dracula.

resource:

www.geocities.com/Athens/Forum/2853/dracul.htm

Indonesia-English

Saturday, September 16th, 2006

Dscn3933 

The Making of Pembuatan of Tumpal Tampubolon’s The Last Believer Part 6: The Talents

Monday, September 11th, 2006

Mad_cow_and_dough_never_thought_id_see_y Madcow and Dough! Karakter buatan gw jaman dulu banget! Never thought I’d see you guys again! Sori intermezzo, foto ini di luar judul bab krn gw gak tau musti di taro dimana , yang jelas ini adalah kesed di lokasi syuting, tapi buat gw nostalgia berat buook.

Talent2

Inilah para pemainnya, dari kiri ke kanan: Salwa Shahab, Merry Putri, Ferry Coboy dan Monica Ilyas.

Talent3Pemain yang belon dapet giliran syuting, nunggunya di taman sambil piknik kecil2an.

Talent1

Bang Tino dan Ferry Coboy. The Doctor and The Husband.

Talent4

Salwa dan Monica, kelas 5 dan kelas 2, yang satu pendiem yang satu cerewet, yg satu profesional, yang satu manja. Tapi kan namanya juga anak-anak. O iya Salwa ini yang jadi Rachel Maryam waktu kecil di film Janji Joni.

Talent5

Pemain di foto untuk kontinuiti sebelum mulai shoot. Tapi seharusnya Monica gak ada di scene ini, dasar tukang nampang.

The Making of Pembuatan of Tumpal Tampubolon’s The Last Believer Part 5: From Paper to Screen

Monday, September 11th, 2006

Art1 Bukti kesaktiannya art department: Perhatikan, ini adalah lokasinya, belum diapa-apain.

Art2

Ini adalah konsep visualisasi gua, oke, mungkin sedikit berlebihan.

Art3

Dan ini adalah hasil kerja tim art, edah yah, liatin di temboknya sampe dibuat list kayu. Dan gak keliatan di foto, ada jendela dan pintu kamar yg ditutup dan diplaster. Dana yang dipake untuk nyulap ruangan ini adalah sebelas juta.. Yuu.

The Making of Pembuatan of Tumpal Tampubolon’s The Last Believer Part 4: Directing The Shoot

Monday, September 11th, 2006

Directing04 Tumpal dan Beni lagi replay adegan yg baru direkam, biasanya sih harus ngulang, kaya :  "Okeh bagus, tapi kita ulang sekali lagi yaa" untuk ke lima kalinya.

Masih kalah sih, sama rekor Eko yg 19 kali ngulang..

Directing02

Ini tampilannya previewnya, lagi tes lighting, jadi dua cowo pelukan itu hanya guide untuk lighting, ntar mah yg pelukan ibu dan anak.

Directing03 

Tumpal dan Panda lagi nerjemahin bahasa gambar (bikinan gw, lengkap dengan arsir di sana-sini) ke visual, nimbang-nimbang mana yang efektif mana yang boros.

Directing01

Hasil akhirnya entar kira2 begini, tapi masih bisa diotak-atik lagi warnanya.

The Making of Pembuatan of Tumpal Tampubolon’s The Last Believer Part 3: The Crew

Monday, September 11th, 2006

Crew01Dari kanan ke kiri : Edo, bagian kontiniti yang suka motah kalo tidur, Gempar soundmen yg kalo manggil namanya suka ketuker sama Tumpal, dan Pidi yang nyatetin tiap shot, gudlak ma film GUEnya ya!

Crew02 Even, Demplon & Pai lagi nungguin kru nyiapin semuanya, plus cek sana sini.

Crew03 Even, TanteDes (perhatikan kalungnya,dia punya banyak banget tipe yang kaya begitu)  dan Balenk. Numpang nampang pas test make up.

Crew04 Ini Bimo, location manager, tampang serem tapi jari berkutek pink, bareng TanteDes, tanpa kalung, soalnya gak matching sama baju.

Crew05 Ini Steve lagi beresin tripod sori gw motret gak keliatan muka… o iya benda oranye kotak itu gensetnya, gak mungkin dong maen colok listik setempat, tar langsung pet!

Crew06

ini Yudha, kameramennya. Mirip siapa cobaa?

Crew07

Yudha kalo lagi shooting, bengeut pisaaan.

Crew08

Itu yang paling kanan adalah Beni, bagian art dept, ngurusin semuanya yang berhubungan dengan benda yang bakal dishoot.

Crew09

Klara bagian kostum, Puput dan TanteDes bagian mik ap dan satu lagi, co-nya puput (eh bener kan? bukan sodara kan?), lagi pada merenung..

Crew10

Kru lighting dan kamera (Gw lupa nama-namanya…)nampang dulu sebelum kerja.

Crew11

Panda lagi mo ambil sarapan.

Crew12 

Soundman lagi ngerekam (haaah lupa nih gw namanya..).

Crew13

Tumpal,sutradara merangkap penulis cerita lagi konsen sebelum mulai shoot.

Crew14

Yak, itu guaa, makasih ya Do udah difotoin. Lagi maen sama Monica yang cerewet.

The Making of Pembuatan of Tumpal Tampubolon’s The Last Believer Part 2: The Lighting

Monday, September 11th, 2006

Lighting1Lighting edan, empat ribu watt!! Gila, bisa bikin malem jadi siang dan baju basah jadi kering. Kira-kira terangnya berapa kali kunang-kunang ya?

Lighting2 Empat megawat in action, asik juga kalo dipasang di kamera, bisa motret stop action setiap saat.

Lighting3 Lagi unload barang-barang sewaaan (iya sewa, karena kalo beli, mahal). Untung lokasi suting sebelahan sama lapangan kosong, kepake banget buat naro genset, kendaraan dll. Ini salah urutan, tapi gw sengajain gini, jangar kalo dirapihin per urutan, bab, sub bab dll, mungkin bulan depan baru beres.

Lighting4

Liat benda biru tergulung rapi? Itu adalah filter lighting, mirip transparansi gitu, tapi harganya 600rb ! Huah! Bisa beli berapa cd bajakan tuh?

Lighting5 Lorong yang udah di setup lightingnya, bisa sejam sendiri tuh.

Lighting6 Perhatikan lightingnya, ada yang nembak cahaya putih pake filter biru, ada yg kaya neon tapi kuning (kinoflo) ada yg kecil utk highlight… Bikin film teh ribet ya?

Lighting7

Usaha sampingan Deril..

The Making of Pembuatan of Tumpal Tampubolon’s The Last Believer Part 1: The Camera

Monday, September 11th, 2006

Camera1 Itu tumpal lagi ngarahin pemain, dan panda lagi komunikasi sama kru lighting.Camera2

Kalo butuh angle kamera dari atas, maka dibuatlah konstruksinya, halah! Repot juga yaa…

Camera3 Liat garis kuning, itu adalah meteran, untuk ngukur fokus (istilahnya fokus puller buat krunya) gimana sih, kamera segede gitu ga bisa autofocus.. he he he

Camera5 Track shot (yang pake rel), supaya hasilnya super-dramatis.

Camera4_1 Pa Bambang dan Tumpal sesaat sebelum take last shot on 2nd day, o iya bapak ini teh angkatan atasnya pa Amrizal, dulu di seni patung itb, mantan murid ibu Rita juga.

The Old Man and The Kid

Friday, September 1st, 2006

Kakekgadis

“Hi there!”

“Hello”

“What are you doing?”

“I’m writing stories”

“Whoa that’s nice, what kind of stories?”

“Love stories, children’s love stories”

“But that’s absurd! Children’s don’t fall in love!”

“They don’t, but I’ll bet they are very familiar with the feel”

“No they don’t!”

“Yes they do”

“….”

“Uhm, here’s a sample: friendship, is there any love in it?”

“Yea, but it’s different…”

“What’s love means to you?”

“Umm, it means an affectionate feeling between a man and a woman.”

“How about a mother’s to a child?”

“Yes, it is love too”

“So, I could write a story about a mother’s love to a child and calls it a mother’s love story? “

“I-I suppose you could, but then, others would think that as a romantic story”

“After they read the book, they wouldn’t; in fact, they would have a more broad understanding of the meaning of love, right?”

“Yea, but why don’t you just simply change the title?”

“Because I’m trying to put the commonly agreed meaning of that word back to its original state, the broad meanings of the word love.”

“That’s rather complicated; I’d prefer a much simple way.”

“Such as?”

“Tell them directly that the word has other meanings, not just romantics”

“I’ve done talking to their ears, kid, and it’s not working. Now, with this love stories, I’m going to talk to their heart.”

“Okay, would it be a success?”

“I hope so"