That Dreamy Place in Dream.

Mmm belakangan ini agak sulit menulis belog,
jadi gw nyoba untuk bikin pake sistem dialog aja, lebih menyenangkan.

Oke, let’s talk about dream !
Good ! mau ngobrolin tentang apanya ?
Bukan tentang mimpi apa kemaren, tapi apa yang ingin diimpikan.
Misal ?
Mmm, pernah baca buku bertajuk "piece of mind" ?
Iya, terus ?
Disana ada ulasan tentang salah satu cara meditasi, menenangkan diri
Waah, kamu new age sekali ya?
Diem.
Oke.
Pokonya inti yg mo disampaikan adalah, untuk lari dari kejenuhan sehari-hari,
kadang kita perlu bikin tempat damai di bayangan kita, bisa macem2, misalnya
pantai Pi pi le yang di film The Beach, asik banget kan kalo lagi naek motor, keujanan pas
nunggu lampu ijo, terus bayangin untuk sesaaaat aja kita pindah tempat dan jemuran di sana haaaaa..
Iiyyooi, ilang ya rasa dingin tadi.
Nah, yg mau gw tanyain, tempat yg elu suka untuk lari kesana dikala terlalu
penuh tu kpala, kemana ?
Oh, ada satu tempat, di buku itu juga ditulis kita boleh juga bikin sendiri.
Iya, lalu ?
Ya, hmm bukan bikin sendiri sih, lebih tepatnya nyomot dari ide orang.
Bahasa kerennya : inspired from..
Iya, nama tempatnya masih belum ada, asalnya mau gw kasih nama Erana’s Peace, ngambil dari game quest for glory I (kekeuh! dan gw masih kesel sama yg bikin game krn menciptakan tokoh centaur yg ga bs diajak kencan!) pokonya di tengah hutan yg penuh makhluk jahat (atau baik, tapi ngga pandang bulu mana kawan mana lawan), di Erana’s Peace, ngga ada yang bakal ngelukain elu, hanya satu pojok itu di tengah hutan yg gelap dan kejam, tempat dimana kamu bisa istirahat dan memulihkan tenaga, sambil  dengerin medley instrumen midi berirama celtic.
Tapi bukan itu tempat yg kamu maksud ?
Bukan, tp gw pengen aja cerita tentang Erana’s Peace, dan petualangan2 bodoh lainnya di kota Spielburg, tapi itu gak penting2 amat, krn gamenya ga berhasil gw tamatin. Paling sebel kalo maen game petualangan dan harus nyari benda tertentu yang gw ga tau  di mana, pasti mentok dan ujung2nya di uninstal.
Jadi tempat yang elu maksud kaya gimana ?
Ngga jauh, gw ngambil dari Quest for Glory III (D’oh! maniak amat!) dengan beberapa modifikasi tentunya. Oke, Sekarang bayangin elu lagi kejebak ditengah2 macet, AC mobil mati, dan hari lagi panas2nya, terus perjalanan masih 2-3 jam lagi. Bau asap knalpot dan comberan semerbak dimana-mana.
Nyebelin.
Btuwl. Ibarat mandi fauna gratis. Terus bayangin kamu ada di tanah gersang, di tepi jalan raya yg sepi banget, dan tanah disana retak2, kekeringan.
Iya, lalu ?
Lalu kamu merogoh saku dan menemukan toples sangat kecil, mungkin seukuran cat poster sakura (yang dijual di toko yosiko di pasar balubur, seharga sktr 9000an per botol) bening, isinya air, yg bening juga.
Kebayang, terus ?
Di dalam toples itu ada daun kecil, merah, mengambang. Buka toplesnya, ambil daun itu dan makan.
Ambillah dan makanlah. Terus ?
Ada semilir angin sejuk menghembus dari barat, kamu ngeliat kesana, dataran yang gersang tak berujung tidak lagi seperti yang tadi, dan kini, kamu berdiri di atas sebuah tebing, ujung dari dataran.
Lalu ?
Lalu kita meloncat !

Kebawah,

angin menerpa wajah,

kencang, tapi lembut,

menderu tapi ngga memekakkan

satu dua awan kita terobos

dan setelah itu kamu sadar,
dataran hutan hujan
berwarna hijau tua menghampar,
ratusan meter di bawah.
Kita meluncur menuju ke danau di tepi hutan itu.

BYUR

segarrr! ada beberapa buaya hitam disana, tapi mereka tidak berbahaya. Kita berenang terus, melewati air terjun, menuju tepi hutan. Burung rangkong, lutung dan fauna lain ramai bersahut-sahutan. Seekor anjing berwarna hitam-putih setinggi lima meter datang dan menggigit ujung pakaian.
Lalu ?
Dia mengangkat kita dari air, dan membawa menerobos hutan.
Menuju pohon terbesar, tertua dan terkokoh di dunia : The Mother of The World. pohon pertama diantara pohon2 lain yang tumbuh di bumi. Besar, tinggi menjulang. Ada beberapa awan yang menyentuh puncaknya.
Anjing itu menaruh kita di kaki pohon tersebut, menjilat sekali, liurnya cukup untuk keramas sekujur tubuh.

Ada anak tangga yang mengelilingi pohon raksasa tersebut, kita menaikinya, terus, terus dan terus, hingga setelah menyentuh awan pertama, baru kita berhenti.
Disana terdapat sebuah ruangan yang dibangun di dalam rongga pohon tersebut.
Kamar yang seluruhnya terbuat dari kayu tua berusia ribuan, jika tidak jutaan, tahun. Aroma segar kayu lama, serta kertas kering memenuhi lantai, sofa, lemari, ranjang dan meja di ruangan.
Ada sebuah ketel disana, sedang menyala-nyala, merajang kopi, harumnya bercampur dengan seisi kamar.
Lengkaplah sudah suasana di ruangan itu. Kita berjalan menuju sebuah ruangan lain, yang terdapat bak berisi penuh oleh air embun.

Dingin dan sejuk.
Mandi dan berganti pakaian.
Hijau tua dan coklat muda, warna favorit sejak lama.

Kita berjalan keluar, dan dari sana tampak jelas seluruh dataran sekeliling pohon.
Lembah dan gunung, bahkan pantai di balik gunung jelas sekali terlihat.
Suara ramai di hutan, serta nyanyian sebuah suku kecil di tepi timur terdengar
harmonis dengan semilir angin dan hangatnya matahari.
Berjalan-jalan ke arah ranting, yang melingkar membentuk semacam kursi, sehingga kita
bisa duduk-duduk atau bermalas-malasan di sana, dinaungi oleh daun-daun rimbun yang sesekali menjarang dan mempersilakan surya untuk meneruskan sinarnya ke bawah.

Disana, kita dapat bersantai dan bermalas-malasan sepuasnya, memulihkan tubuh dan jiwa.
Menghirup semilir udara dan sepoi-sepoi suara hutan.

Sambil berkata pada diri,

Hidup ini Indah.

One Response to “That Dreamy Place in Dream.”

  1. absurDeety Says:

    kereenn!! kebayang kebayang!!

Leave a Reply