Archive for December, 2005

JADILAH DIRI SENDIRI ?

Friday, December 30th, 2005

Tadi baru aja liat iklan shampoo tentang metamorfosa untuk jadi diri sendiri. Disana digambarin kalo kita kudu berani jadi diri sendiri, yang digambarin kalo di iklan itu kita berubah dari tampak standar jadi gaul abis, full accesory montesori.

Hmm, the idea sounds good though… OK, kalo gitu gua mau jadi diri gua sendiri !

…sebentar..
Saya itu orangnya kaya gimana ya ? O iya ! Saya bakal jadi gua bangget kalo pake kacamata bunder macam John Lennon punya.
Terus ?
Terus pake tatto tribal di leher. Tatto Grim Reaper juga boleh he he he, dan naek motor bermesin 400 cc keatas. Mau bandit, ducatti, bmw, harley apapun juga oke asal gede.
Tapi..tunggu, kayanya gua lebih cocok kalo tampil brewok abis, plus anting salib.

Eh ? Mau jadi diri sendiri kok malah bingung mau tampil kaya gimana ?
Itu kan bukan jadi diri sendiri, tapi gimana tampil seberani dan sesuka mungkin ?
Oke tampil mau kaya gimana itu kan bebas terserah orangnya, biar jiwa seniman abis, boleh dong tampil rapi kaya agen asuransi–>Perhatian, ini contoh, bukan untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, mana nyokap gua juga orang asuransi pula, masa mau gua  jelek2in sih ?

Terus kalo mau tampil jadi diri sendiri gimana ?

-Sori nyelip bentar-
Gua inget waktu SMA, wali kelas pernah menyuruh masing-masing murid untuk menulis semboyan diri di secarik kertas (yang nantinya dikumpulin dan dibaca). Ironisnya, semboyan yang paling banyak di copy-paste adalah "Be yourself". Jdeerrr…benar-benar indonesia banget yaa. In case you’re wondering, I don’t write that copy-pasted phrase, just something more hipocrite.
-ok kembali lagi ke topik awal-

Gimana dong kalau mau jadi diri sendiri ? Kan bukan dari cara berpakaian ?
Iya, cara berpakaian hanya nunjukin itu adalah dirimu, semacam penanda aja. Gua pake (misalnya) kemeja hawai dan celana pendek safari plus sepatu sendal dengan alesan emang suka aja, bukan karena temen2 pada pake.

Bukannya lu jadi makin kaya turis ?
BUKAN ITU BAHASAN KITA.
O iya, sori.

Jadi berangkat jelas dari pikiran dong, ketauan kok orang yang gayanya asli dari dirinya sendiri dengan gaya yang ikut-ikutan.
Terus kalo ngerubah mindset supaya jadi diri sendiri ?
Hm, ngga gampang, selama ini gua masih berusaha untuk jadi diri sendiri juga kok.
Belum bisa sepenuhnya memang, kadang masih ikut-ikutan temen dalam hal kecil, kaya jajan susu kedele di luar studio, atau ikut-ikutan cuci motor, karena kalo nyuci sendirian males.
Lagian keliatannya keren kan cowo-cowo kumal bersimbah kotoran lagi pada nyuci dan godain satpam kompleks…

Ok, gua becanda.

Mau tahu paling susahnya dimana ?
Susah apa ? godain satpam ?
JANGAN DIBAHAS.
ok, sori.

Belajar jadi diri sendiri itu paling susah pada tahap, dan gua pikir ini paling dasar, untuk jujur sama diri sendiri. Susaaah banget. Oke, muka senyum malaikat di depan orang yang gua sebelin setengah mati masih bisa biarpun sulit, tapi untuk ngakuin hal yang simpel kaya :
"…Ric, kamu itu orangnya pemalas, coba deh lebih rajin dikit." –> Gua ngomong ke gua, tapi selalu di jawab lagi oleh gua dengan alasan "..Duh bukannya males, tapi lagi ngga enak badan."
ato "..lagi ngga mood aja"

Yaa seperti itulah..

Here’s another sample :
"ric, orang itu ngga salah, tapi elu aja yang sebel abis, jadi semua yang dia lakuin salah
di mata elu.."
Pengennya sih teguran nurani itu yang salah…
Di situ susahnya, jangankan jadi diri sendiri, jujur sama sendiri aja belum tentu 100%. Mungkin bisa pelan-pelan, ngga mungkin dong dalam sehari jadi Santo Veritaserum.

Sulit, but look at the bright side, banyak loh orang yang suka kejujuran. Iya yang ngga suka juga banyak, but so far, thank goodness I’ve met nice people much more than not-so-nice people. They helped and inspired me to become a better person too. And self-honesty is the first step.
Therefore, I really should be thankful to them.
Thank You Terwelu
Thank You Griffin                                                                                             Thank You L di Tgrg
Thank You NeverGrow
Thank You Doraemon
dan temen-temen laen, thank you juga yaa (Pak J, yang mukanya kaya Bruce Wayne di Batman Baggins, Hipermen, awas ketuker sama hymen, Sadoso yang gembruot, ‘Im, yang sering ketemu di YM, Jajang, yang selalu merasa bersalah, Kalkun yang bentar lagi jadi ibu, dan Ultramen, si pria lemah)

Kok nama-namanya disamarin sih ?
Mm soalnya ditujuin ke orang masing-masing, ngga harus semua tau semua.
TUH KAN GUA BOHONG LAGI !
Iya sebenernya gua malu aja kalo dikasi tau satu-satu hi hi maafkan kemaluan ini sangat berlebihan…) Ngga apa-apa deh, kalo misalnya penasaran orang-orangnya siapa post aja comment di sini, nanti gua kasitau via message. Sebenernya identitas ngga terlalu penting, yang lebih penting itu apa aja yang gua udah pelajari dari mereka, yang bikin gua belajar jujur sama gua sendiri.

Apa aja yang udah dipelajari sama gua ?
Banyak, dari belajar positioning diri, belajar jadi listener, sampe belajar berkorban,
tapi intinya ya dengerin nurani, biasanya kita kan suka nutup nurani dan ngelakuin
apa yang kita mau, padahal mungkin aja nurani kita nyaranin untuk diem bentar dan
buka kuping sesaat untuk temen di sebelah.

Mungkin yang gua ketik diatas ngga sepenuhnya sesuai dengan pengalaman yang dialami orang lain, jadi kalo ngerasa punya input ato sanggahan ato apapun, be sure to post some comments okay !

The House

Friday, December 23rd, 2005

Deep inside the forest laid a set of houses, its insides felt larger when I stepped in.
From the outsides, green leaf of trees decorates the sky.
The warmth of sunlight flows through its patches.
I was there this morning, right before the sun was fully up.
I have walked inside the house, searching for her, only to find none.
There inside it looks as if the house made from several different pieces of rooms.
Though strange it may looks, pleasant and comfort was all around.
The air was warm, and the ground outside the house was made of rich, fertile soil, with a scattered crumple of grass.
The cheerful shout of children playing tags surround the forest.
It encircle and energize the trees to grow, bigger and bigger.
I wish I had not wake.
I wish I were here forever.

Houseofd

A Tribute To Childhood

Friday, December 16th, 2005

The Gift of Dreams

Those with the gift of dreams,
you have the obligation to share it
any way you can and could re-live it, reinvent it
make it so that it inspires your children and their children’s children

There is not much of it left in here. If it’s gone,
where would hope lay ? where would happines be without hope ?

Intheseaofsheetjadib_1

The Inverse of Narnia

Di Narnia kita sebagai anak kecil bisa bertualang menjadi ksatria, raja atau ratu, dengan berbagai
petualangan fantasi yang fantastis, dan ketika kembali ke dunia nyata, kita kembali pada bentuk
anak-anak.

What if..
Kita yang udah dewasa bisa stumbled across a portal someday, dan nemuin masa kecil yang
ilang di suatu tempat kaya narnia..
bermain dengan benda-benda yang ukurannya diatas kepala kita, kalo mau ngobrol ke
orang lain harus menengadah, dan anjing-anjing yang berukuran besar bisa ditunggangi !

I hope that’s what heaven would look like.

Jokes On Narnia (The Lion, The Witch and The Wardrobe)

Thursday, December 15th, 2005

Tau kan apa yang dikatakan Aslan ke Edmund pagi-pagi setelah dia bangkit lagi ? " Ed, kamu jangan nakal lagi yaa, nyawa gw udah tinggal delapan gara-gara nebus dosa elu. Jangan diulangi yaa, sakit loh rasanya dirajam.. Gimana Edmund ga nyesel..

Alasan pribadi the white witch ngebekuin narnia, karena bajunya yang putih ngga matching sama narnia yang ijo coklat (which is gw banget actually), jadi daripada repot2 beli baju baru, mending narnianya aja yang di bekuin, ya ngga ?

Centaur menang lawan Minotaur, karena centaur biarpun berbadan kuda, masih berotak manusia, tapi minotaur, badannya sih oke manusia dan berotot, tapi otaknya kebo.. Phoenix selalu dibutuhkan di Narnia, untuk manggang, ngerokok, dan kebutuhan2 dapur lainnya.

Para cyclops benci sekali manusia karena mereka tidak bisa bermain mata seperti layaknya manusia.

Kenapa Faun spt Mr. Tumnus tidak ada di indonesia ? Dulu sih ada, tapi suka ketuker sama kambing, jadi ikut dikurbankan..

Kenapa ngga ada dinosaurus di narnia ? karena punah pada saat white witch membekukan narnia.

Kenapa dwarf benci manusia ? karena mereka selalu mengalami sakit leher ketika berbicara dengan manusia.

Kenapa pasukan yang jahat banyak sekali minotaurnya ? dan cyclops serta raksasa ngga banyak ? Logis banget, cyclops ato raksasa makannya banyak, dan minotaur kan hanya makan rumput, terus kalo populasi minotaur kebanyakan, tinggal disembelih untuk santapan cyclops ato raksasa.

O iya, selain ransum makanan yang banyak, para cyclops juga membutuhkan suplai insto cukup banyak. Mata mereka hanya satu, harus dirawat sebaik mungkin.

Selain istilah "tinggal semata wayang", bisa juga istilah "tinggal semata cyclop".

Para Centaur memiliki peluang paling besar dalam mendapatkan pasangan hidup karena Selain bisa pacaran ke sesama centaur, kalo gagal masih bisa ke manusia, parah2nya kalo ngga laku yaa sama kuda…

Kebayang ngga sih kalo Aslan pas syutingnya ternyata Liam Neeson yang jongkok dan bersuara ke rakyat narnia ? ato posisi ngerangkak, jadi suara tetep wibawa walaupun posenya bodoh..

Kenapa Aslan harus disuarain sama Liam Neeson ? Soalnya dia udah pengalaman ngajarin Obi wan Kenobi dan Bruce Wayne.

Kalo Aslan sama Mufasa jagoan mana ? (sori kalo ga ngerti, rada cross genre nih bodorannya) Mufasa kan yang ngisi suaranya James Earl Jones, dia juga jadi pengisi suara Darth Vader. Darth Vader/ Anakin Skywalker itu kan diajar oleh Obi Wan Kenobi. Obi wan diajar sama ? Qui Gon-Jinn/Liam Neeson! Jelas Mufasa kalah doong sama gurunya guru.

Apakah lemari ajaib juga bisa ditemuin disini ? Bisa, tapi ajaibnya, lemari itu ngga bisa apa-apa.

Seni Vs Desain

Wednesday, December 14th, 2005

What the *censored* is wrong with the title ?

Kenapa selalu ada perbedaan persepsi antara "desain" dan "seni" ?
Oke, contohnya deh, perbedaan anggapan antara mahasiswa desain dan mahasiswa seni.
Atau paling ngga, mental desainer dan mental seniman.
Atau mungkin memang udah beda, tapi balik lagi ke pribadi masing-masing ya ?
Misalnya kalo seni(man) itu kan cocoknya sama (ini anggapan saya sendiri loh, jgn salahin
org laen) lusuh ato tampak menderita, pdhl karyanya bisa dijual mahal. Tp kalo desainer identiknya
sama…
Oscar Lawalata ?
Ngga, mungkin sama modisnya doang kali ya.

Oke masalah selera berpakaian mah ngga urusan.

Masalahnya apa ?

Pernah denger kan pepatah "When in Rome, do what Romans do" ?
Rome is everywhere, bisa di rumah temen, kampus, komunitas laen, pokonya
tempat laen selain kamar ato rumah sendiri, tempat laen dimana kita ngga
bisa seenaknya menyilangkan kaki sendiri. Ngga bisa "bertelanjang-ria" seenak perut.

Di pergaulan selalu aja nemu orang yang ngga tau kalo dia lagi ada di "Roma".
Akibatnya ? yaa orang lain yang makan ati..
hap!
nyam!
glek…
*burp*

Misalnya ?
Gini deh, masalah mental aja, kalo di tempat kuliah gw, mungkin jurusan gw aga santai
dalam hal deadline pengumpulan tugas ya, tapi itu pun udah bikin beberapa orang jadi sebel
karena udah cape-cape ngumpulin ternyata masih bisa minggu depannya atau at least dua hari
setelah deadline.
Utk yg kecewa sih gpp, untuk yang kesenengan deadline diundur, ini bahaya. Mental
seniman di dunia desain kan berabe.

"Tolong buatin tiga alternatif untuk cover bulan ini"
"Iya oke."

–selang dua hari–

"Gimana, udah ada alternatif ?"
"Ya belon atuh, kan baru dua hari, belon juga sebulan. Nyari ide dulu.."

..Itu baru contoh.

Ah ngga, kalo mau lebih ekstrim, di tempat desainer kerja pasti butuh suasana
senyaman dan serapi mungkin kan ?
Tapi disesuaikan dengan lingkungan.
Kalo di tempatnya ada beberapa orang yang juga bekerja dan mereka punya kegemaran tertentu,
ya ikut dulu makan ati, demi kepentingan bersama.

Misalnya ?

Misalnya kalo di studio itu ngga ada yang ngerokok, ya jangan ngerokok dong pas di studio.

Kalo ngga bisa idup tanpa roko ?

Apa kata pepatah ?

tapi kalo orangnya kekeuh ?

Ya, itu seniman –> mentalnya, again ini kan anggepan gw, bukan mo ngerusak definisi
seniman sendiri.

Kalo udah ngepositioning diri "gw hanya bisa kerja kalo gini gini dan gini, dan kerjaan
yang gw suka hanya ini, ini dan ini" ?

Itu kan berarti nawarin diri untuk diterima kerja. Kalo tempat kerjanya bilang "Oke, kamu
cocok banget dengan kebutuhan kami, silakan mulai besok."

Itu oke aja.

Tapi kalo tempat kerjanya bilang "Wah kita butuhnya yang gini, gini dan gini,
sepertinya saudara kurang cocok dengan spesifikasi yag kami cari, silakan mencoba di
tempat lain"

Itu juga oke aja.

Terus masalahnya sekarang, kalo sistemnya bangun usaha bersama tapi sikapnya karyawan ?
Yah, well, if being an employee is what they wanted, then what’s wrong with it ?
Hanya aja jangan marah kalo pekerja itu hanya bisa disuruh, tapi ngga bisa ngatur keatas.
Jangan ngedumel kalo di kantor ngga boleh ngeroko.
Jangan ngedumel kalo ngerasa kepaksa.
Jangan ngedumel kalo..

udah ngga dibutuhin lagi.

Itu takdir karyawan. Iya saya ngga nyangkal kalo ada kasus-kasus tertentu dimana karyawan
yang sangat berprestasi bisa naik ke jabatan yang sebelumnya ngga mungkin diperoleh.
Tapi itu ngga bisa dijadiin patokan.
Yang jelas kalo mau ikut ngatur dari atas, pengorbanan lebih banyak, makan liver lebih banyak,
kepentingan pribadi jadi nomer dua.

Dan mengalami tekanan merata dari segala pihak.

Itu pilihan yang jelas.

Kalo ngga bisa liat ?

Mungkin bukan ngga bisa, tapi belum bisa. Kan ngga semua orang bisa ngerti
situasi dirinya, kekurangan dan kelebihannya secepat (atau selambat) orang di
sebelahnya.

Itu satu hal yang ngga bisa disalahin.

Tapi kalo karena ketidakngertian itu bikin kesel, sakit ati de el el ?

Kita yang lebih ngerti jangan kepancing.

Bete yah ? Gpp, itulah hidup.

Life isn’t fair but that doesn’t mean we have to be unfair.

Carpe Diem

Sunday, December 11th, 2005

I think there’s something nicer than death and despair.
I don’t know what it is.
After all, the dark side was just an escape from the real world.
It is one big reason of why I like fantasies.
It allows me to run from everyday life.
Nevertheless, I cannot run forever.
It’s time to face the reality and become alive.

Oldskool games Rocks !

Monday, December 5th, 2005

Kenapa oldskool ? Karena itu adalah bagian dari masa kecil. Semua bagian dari masa kecil pasti lebih nempel. Baik hal yang menyenangkan dan mengerikan. Yang bikin kita suka
sama suatu hal (misalnya pangeran berkuda dan putri kerajaan) atau benci sama satu hal (sekolah, ato uler, apapun).

Yang sekarang mau saya tulis adalah tentang PC Game jaman 90 awal, atau mungkin hingga 80 akhir, ya, sekitar masa itu. Dulu pentium belum ada, dan saya cukup beruntung untuk bisa memilki 486 dx. Walalupun masalah mah selalu muncul, terutama pada bagian memori, yang hanya 2 mb.
2 megabyte !
Bayangin kalo sekarang kan minimal beli komputer dengan memori udah 128 ! Enam puluh empat kali lebih besar !
Gila, dulu kita menderita banget dong ?
Ngga juga, kan aplikasi masih dos. Windows yang ada masih 3.11, paling kepake untuk
maen solitaire atau paintbrush. Saya ngga terlalu suka minesweeper. susah.

Dulu sebelum jaman 486 hadir di rumah, satu-satunya hiburan komputer untuk dimainkan
hanya di rumah paman. Kalo di suruh milih berenang bareng tmen-temen ato maen ke rumah Om, pasti saya pilih yang kedua.

Mungkin PC Game yang paling berkesan sampe sekarang hanya Quest For Glory III. ya, saya dulu main prince of persija 1 dan 2, another world juga keren banget tuh, gambar kotak-kotak juga gak masalah. Tapi tetep aja, saya baru tahu game yang saya suka setelah sekian tahun, karena baru sadar kalau yang nempel di kepala hanya yang itu aja, at least yang nempelnya paling kuat.

Kenapa bisa segitunya ?
Entah ya, mungkin karena genrenya fantasi, penulis sejak sd besar dengan starwars dan neverending story, sedikit merubah selera menjadi suka dengan segala sesuatu yang bersetting bukan di dunia ini.

Apa lagi neverending story. Oke nyela dikit ngga apa-apa kan ?
Film ini bagus banget (yang versi layar lebarnya loh, yang episode 1, yang laen mah jangan
diliat, sinetron banget. DVDnya ampe sekarang belon nemu aja.) Apa lagi kalau yang nonton
udah ngerasa kalo dirinya nerd dan sedikit berbeda dengan org lain, minder.
Wah ini bakal jadi film elu banget, soalnya ceritanya tentang anak kecil yang ngga punya Ibu, entah cerai atau meninggal, dan selalu digencet tmen2 sekolah, bertualang ke fantasia, dengan naga yang kata gua sih lebih mirip anjing raksasa yang bisa terbang (Falcor) wah udah deh keren abis !
Catet : Adegan favorit: waktu Falcor keluar dari awan-awan, nyelametin Atreju yang tenggelam di lumpur.
Efeknya ke yang nonton ….apa ya, kaya ada sesuatu di kepala yang berubah sejak liat film itu, adegan itu. Pokonya gw jadi mikir kalo di balik awan  ada naga-anjing baik hati dan tempat-tempat nyaman lainnya.
Dan adegan satu lagi, ketika anak kecil yang selalu digencet itu akhirnya bisa balik lagi
ke dunianya, ya tentu saja naik naga itu, dan terbang di kotanya sendiri, sampai teman-teman
yang suka ngegencetin dia takut banget.
The Nerd Wins Over The Bullies !
Ya, oke gua ngga pernah bisa ke dunia lain dan membawa sesuatu yang besar dan mengerikan dari sana untuk meng-keren-kan diri di dunia ini. Mungkin belum bisa aja. Tapi setidaknya nonton Neverending Story bisa ngebantu utk ngebayangin hal-hal kaya gitu. The movie sells our dream, or maybe shares its dream.
A good dream worthy of  keeping.

Back to Oldskool Games

Quest for Glory III setelah saya ingat-ingat kok agak mirip Narnia ya ? Ceritanya
tentang seorang petualang yang diundang ke East Fricana, Qfg_4 daerah yang mirip-mirip sama
afrika atau mesir. Dan disana ada beberapa tokoh wizard senior berupa Liontaur. Kalo Centaur kan manusia yang berbadan kuda. Nah kalo Liontaur itu manusia yang berbadan singa.Kepalanya juga singa. Jadi agak mirip Aslan.
Lalu kalau kita jalan-jalan ke pasar di kotanya. banyak banget yang ajaib-ajaib. Ya Qfg_5 sekilas memang mirip pasar sederhana di timur tengah, tapi penjualnya macam-macam. Ada satu
penjual yang bermuka dobberman, atau jackal, anubis banget. Dia jualan makanan semacam dendeng. Matanya bukan mata kejam, tapi mata baik. Dan lebih parahnya dendeng-dendeng jualan dia bisa ditawar dari beberapa puluh mata uang sana sampe jadi sekeping  mata uang sana. Duh gw jahat banget ya, mana si anubisnya sampe makasih2 segala dagangannya mau dibeli.

Penokohan yang salah.

Ada apa lagi di East Fricana ?
Banyak, dinosaurus juga ada ! Ular Kobra yang bersayap kelelawar juga ada, ngeselin banget.
Dan Mother of The World.
Yggdrasil.
Pohon raksasa, pertama tumbuh sebelum pohon-pohon lain muncul di dunia ini.
GEDE BANGET.
Lebih mirip menara pas naiknya, karena harus melewati tangga yang meelingkari pohon itu.
Mungkin kalau sekarang udah banyak yang mirip-mirip di game lain, gpp, itu juga
ngga orisinil. Tapi karena pertama kali saya tahu tentang pohon besar dari game itu, ya
saya beranggapan (dulu) itu adalah orisinal.
Ada juga Leopardmen, orang-orang yang bisa menyamar menjadi manusia Leopard, keren loh tapi sayangnya resolusi game yang pas-pasan membuat detail menjadi samar…

Ya, sepertinya itu sekilas dari masa lalu. Ngga bisa dilupakan.
Ada versi remake dari edisi Quest for Glory I, gambarnya bagus banget, suasananya juga lebih celtic. O iya saya juga sempat ngajak kencan centaur cantik penjual buah-buahan, tapi belum bisa.
Terkutuklah pembuat game ini.
Mereka sengaja membuatnya tidak bisa diajak kencan !

Sudah-sudah ! Jangan dibahas ! Melihat lebih dari ini berarti melihat aib. Saya selesaikan sampai sini dulu sebelum rahasia-rahasia bodoh terungkap…

Kenapa Sapi ?

Monday, December 5th, 2005

Pasti banyak temen-temen gua yang penasaran kenapa gua suka banget ngegambar sapi. Selalu sapi hermaphrodite berhidung babi itu.
Sejak Dulu.
Sejak Dulu ?
Tidak, Sapi pangalengan lahir taun 99, pada saat gua lg nganggur setaun, terjebak di limbo ketidakpastian, sebab nggak diterima di fsrd dan beberapa hal lainnya.
Tepatnya pada saat bimbel (ya semacamnya, lebih mirip les gambar) utk ujian masuk fsrd taun depan. Padahal akhirnya sih tetep gak kterima.

Rik, kalo sebelum 99, lu gambar apa dong ?
Moncong bebek.
Karakter bebek pendek brotot yg terlalu banyak testosteron, pokonya tipikal Arnold ato The Rock. Tapi Gua gak pernah dapet karakternya… mungkin karena belum skill aja..

Kalo sebelum itu ?
yaa, sebelum itu berarti jaman smp ?
Itu lebih parah, gua gambarnya alien, bukan yang kepala abu-abu dan mata item, tp yang kepala panjang dan mulut dua, item, exoskeleton. Ada di film alien, aliens, alien 3, dan alien ressurection, berikut ada yg vs predator, tp jelek.
Mereka itu malah kalo menurut gua lebih enak dipake jadi karakter2 bodoh. Sebenernya kalo merujuk mundur lebih jauh, pas sd juga udah bikin karakter kaya alien gitu, namanya Oujank dan Ypunk, ya saya tahu saya kampring, nulisnya juga malu….Tapi biarin aja.
Karakter mereka kaya gimana ?
Siapa ?
Ujang dan Ipung.
Oh, mereka pemakan manusia penyelamat dunia.
Kok bisa ?
Iya, kan hanya makanin orang jahat…

……….

Eeeniweiii, kembali ke taufik semula, Sapi 1st, ya, dia muncul pas gua lagi ngegambar tentang suasana demo gitu, dan yang kepikiran adalah orang-orang pake kostum (ato topeng) sapi, lalu berdemo. Setelah mengambar topeng sapi untuk kesekian belas kalinya, gua dapet tuh cara bikin muka sapi yg kartun, cara gua, gaya gua. Emang belum bagus sih, tapi nempel terus.
Setelah itu, ada lomba komik yg diselenggarain di ITB, ada kategori komik saku, mudah kok, hanya beberapa halaman kecil, dengan tema "Dunia Tanpa…"(diisi oleh peserta). Dulu pikiran gua hanya kepentok kalo mau hadiah, harus yg nyeleneh, beda sendiri. Ngga ada istilah kreatif. (kata ‘kreatif’ baru dapet pas kuliah)
Jadi tema itu gua jadiin "Dunia Tanpa Manusia."

And..

Guess what ? Gua menang juara harapan ! Yesss ! Bahkan tmen gua yg jago gambar pun gak ikut lomba itu. Ini memang bukan pertama kali saya nyoba bikin komik. Tapi ini komik pertama yg selesai.

Kalo penasaran bisa click di sini utk liat,
Gua masih ada fotokopiannya yg dijadiin gif animation.

Emang masih jelek banget sih kalo diliat-liat lagi, tapi tetep aja selama 4 taun kuliah selalu tu sapi mewarnai hari-hariku yang berwarna menjadi hitam putih. Bahkan ada beberapa karakter lain yang sengaja dibikin bikin utk nemenin, tapi ngga ada yg cocok jadi partnernya. Bahkan Dogi sekalipun.

Until now.
Gua nemuin karakter kera putih, pada jaman tugas akhir/skripsi. Mau bilang apa lagi, ini satu-satunya karakter bijak yg pernah gua bikin, ngga maskulin ato kanibal ato tolol. Mungkin itu sebabnya begitu gua coba pasangin sama sapi ternyata seia sekata saling melengkapi.
Seimbang,
yin yang,
-1 ditambah 1 = 0
neo + smith = damai.
Kera yang kuat dan bijak plus pandai selaras dengan sapi pangalengan hermaphrodite yang tolol, keras kepala, dan sedikit lebih lemah.
Yang jelas gua banyak dapet ide yang nyambung begitu dimasukin ke interaksi mereka.

it works like magic.

Sekarang tinggal nyari bentuk yang paling cocok utk mereka.
Proses ini masih berlangsung.
Wish me luck Guys & Gals !