JANGAN TANYA KENAPA

    Aku (iya, penulis bosen pake ‘gw’ terus) bisa ada di tengah kebun teh jam 04.30 pagi dengan motor yang terbaring nyaman di tumpukan lumpur.

   Pergelangan tangan kananku sakit sekali jika digerakkan.

   Tidak ada yang bisa dilihat ketika lampu motor kumatikan, seperti memejamkan mata, benar-benar gelap gurita.

   Semuanya gara-gara seorang penduduk desa yang mengatakan jalan ke situ lembang “..bisa lewat sini”.

   Ya ia benar, tetapi  beberapa hal tidak masuk pertimbangannya, seperti: jalan bertaburan batu dan genangan air selutut plus lumpur secukupnya, harus dilewati oleh motor dengan bodi gendut dan mesin 250cc, sedikit ceper.

   Rasa panik akan bertemu soft creature hilang ketika dunia berbaring. Tidak, maaf sedikit berlebihan, yang benar adalah: aku berbaring di samping motor yang (juga terbaring) sesaat setelah melewati lumpur sial. Dan saat itu aku sadar bahwa mengangkat sepedaku saat terjatuh jauh lebih ringan daripada mengangkat motorku (Iya saya bodoh, lalu kenapa?).

   Saat itu juga pergelangan tangan terasa ngilu. Mungkin harus dirontgen, jika aku berhasil lolos dari kebun teh dengan lumpur maut dan penduduk sesat !

   O iya, perlu dicatat, mengingat waktu yang masih agak sedikit terlalu gelap, dan desa terdekat sepertinya berjarak beberapa puluh meter (jika jalanan lebat akan batu dan lumpsy-lumpur syalan, satu meter terasa seperti sepuluh) aku selalu mengecek terlebih dahulu orang yang kebetulan lewat, apakah berwajah atau tidak. Jika berwajah, maka aku akan menanyakan jalan padanya. Jika tidak, yaa, pikir saja sendiri, kasihan kan? Mau makan dari mana ? Ngga bisa ngupil.. Terus contact lens udah beli mahal-mahal malah gak bisa dipakai.

   Kembali ke topik awal. Korban jiwa tidak ada, tetapi spion motor putus, dan sepatuku jebol. Menyebalkan. Apa lagi jika seharusnya aku sudah berada di lokasi pada pukul 05.00, tetapi kini ditengah hutan teh (benar-benar teh untuk diminum, bukan teh yang digunakan sebagai penegas pada akhir kalimat dalam bahasa sunda), tidak ada peluang untuk tepat waktu. Blog2

Karena jalanan semakin menyempit, maka aku memutuskan untuk kembali ke bawah bukit. Ya, melewati lumpsy dan rocky.

   Langit di ujung bawah timur mulai memerah. Saat itu juga aku terbalik untuk kedua kalinya. Dan sebuah pencerahan muncul: Jangan pernah mengerem dengan rem depan pada saat menuruni jalanan terjal non-aspal, kecuali tentu saja untuk menghindari apabila mendadak ada peluru kendali yang mengarah padamu.

Seorang ibu yang sedang menyapu di serambi rumahnya melihatku jatuh. Aku berusaha sekuat tenaga menahan sakit di pergelangan ketika mendirikan motor. Dan saat itulah sang ibu tersebut menyapu seperti biasa.

   Akhirnya aku memahami makna kata apatis.

   Terlepas dari semua yang sudah terjadi (dengan tolol), misi utama harus tercapai: foto sebanyak mungkin pemandangan untuk pekerjaanku berikutnya. Dan itulah yang kulakukan ketika melihat pemandangan terbitnya matahari: Mematikan mesin motor, menurunkan standar (maksudnya standar motor, bukan menurunkan mutu/kualitas), membuka parasut cover ranselku, mengeluarkan tas berisi kamera, membuka helm, dan mencari posisi untuk mengambil gambar.   

   Segera ketika sudah kudapatkan foto yang nyaris surgawi pada Layar Crystal Display, aku bergegas mematikan kamera, memasukkannya pada tas kamera, memasukkan tas kamera pada ransel, yang lalu kututup dengan parasut cover, dan setelah helm kukenakan, motor kunyalakan dengan electric starter. Aku terlalu lelah untuk menyelah motor.

   Dan selama sejam berikutnya aku mengulangi hal di atas beberapa belas kali. Hampir setiap tiga puluh meter pemandangan alam (bukan penyanyi) selalu memaksaku berhenti, mengulangi hal ribet diatas, dan kembali meneruskan perjalanan. Aku tahu benar di ujung jalan ini terdapat danau luas yang sangat menarik untuk difoto. Seratus meter dari lokasi, teman-temanku datang berpapasan dan mereka hendak pulang, target memotret di tepi danau sudah selesai sejak tadi…

   Alhasil, setelah satu jam tersesat di antara lembang dan cisarua, satu jam tersesat di hutan teh, aku pulang tanpa sempat melihat danau. Aku benar-benar gondok (Ada yang punya yodium?).

   At least gw (penulis merasa capek pake ‘aku’ melulu) dapet foto-foto yang keren. Dan itu sepadan dengan sepatu jebol, spion putus, motor celup, penduduk sesat, waktu tidur yang hilang, gondok yang nyebelin. Ya, sepadan. Entah apa kata orang lain, tapi kesulitan yang kualami memberi pengalaman unik (dan bodoh) tersendiri.

Blog1 Pendeknya: menyenangkan.

3 Responses to “JANGAN TANYA KENAPA”

  1. Rizma Says:

    those are nice pictures!
    yah seharga lah ama ‘tragedi’ yang kamu (kan nulisnya pake aku) alamin, hehe..

    btw emang ada ya gelap gurita?
    udah bisa ngomong rrrrrrrrr toch???

  2. -dee- Says:

    dont u think it’s too obvious to say u’re stuuuupppiiid??

  3. Mirna Says:

    KENAPA ITU RICK?
    RICK, LU KENAPA SIH?
    RICK, TANGAN LU KENAPA TUH?

    tapi pada akhirnya ya … seiring dengan sembuhnya luka derita, gag ada yang nanya lagi… terus… jangan-2 lu jadi rindu ditanyain “kenapa”

    Bahaya tohhh

Leave a Reply